Wednesday, November 14, 2007

My first day in Manila

5 May 2007,

Pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Manila, Phillipines. Sebuah negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Sebuah Negara yang sering terdengar dengan berita politiknya yang lumayan menyeramkan. Secara geografis negara ini tak berbeda jauh dengan Indonesia. Tak pernah terbayangkan suatu saat aku akan mengunjungi negara ini. Kalau bukan, Bajaj tinggal disini, mungkin aku ga akan berminat berkunjung ke sini. Yah…begitulah, suratan takdir membawaku untuk mengunjungi negara ini, pada 5 May 2007.

Kunjunganku ke Manila cukup mendadak. Rasa rindu yang tak tertahankan, mendorong kami untuk mengambil langkah “gila”.

Tanggal 3 May, Yahoo Messenger, menjadi saksi bisu, kerinduan kami. Saat itu pula, Bajaj memintaku untuk ke Manila. Tanpa berpikir panjang, tiket Cebu Pasific langsung di book. Reservasi yang cukup cepat dan mudah via internet, memudahkan proses pembelian tiket.

Saat yang ditunggu pun tiba, 4 May 2007 malam, aku dengan tak sabar menunggu-nunggu waktu menuju bandara Soekarno-Hatta. Demi mengisi waktu, aku menonton Devil’s Wear Prada dulu. Lumayan untuk nunggu waktu. Sekitar jam 21.30, berangkat ke Bandara.

Karena persiapan yang ga cukup, aku mempercayakan uang untuk fiskal sebesar 1juta, kepada kartu kredit. Selesai cek in, saatnya untuk bayar Fiskal…phew…jantung serasa mo copot, udah malem, cari loket yang terima kartu kredit ternyata susah-susah gampang. Loket yang masih buka hanya mau menerima pembayaran cash ato kartu kredit dari bank mereka. Ada loket BCA, tapi apa daya ga punya kartu kredit BCA, apalagi rek.tabungan disana. JAdilah aku berlari-lari dari ujung terminal satu ke yang lain. Ke ATM BII untuk narik uang tabungan…hiks….uangnya ga cukup, kurang 200ribu lagi…huhuhu….dah panic banget….sempet nanya sana sini….beruntung ada 1 loket yang masih buka dan menerima kartu kredit, walau kena charge 2.5 persen, gue rela deh, asal gue bisa ke Manila.

Gesek kartu pertama dari Danamon…kok ga mo proses ya…

‘Mas penjaga loket, saranin untuk pake kartu lain. Untuk aku masih ada Citibank. Harap-harap cemas aku menunggu.

Mendengar suara kertas di cetak, huh…serasa mendapat lotere 1 milyar (hahahaha). Iyalah, gue dah sempet kepikir, masa gue ga jadi berangkat gara-gara ga mampu bayar fiskal.

Dengan hati tenang dan tubuh berkeringat, hasil mondar mandir dari ujung ke ujung terminal, aku melenggang ke counter Imigrasi. Proses berjalan mulus ampe masuk ke boarding room, walau sempet dicegat gara-gara bawa air minum 2 botol, tapi lumayanlah, kutinggalkan 1 botolku di counter pemeriksaan :p

Time to boarding…

Pesawat yang digunakan Cebu Airlines, denger-denger adalah pesawat baru yang usianya masih 2 tahun. Aku agak ga mudeng kalo di suru-suru ngomong tentang pesawat. Tapi dari hasil pengamatanku yang awam banget…dari pintu pesawat aja, kok banyak amat tombol-tombol aneh yang selama ini ga pernah kulihat di pesawat komersial dalam negeri. Kesannya canggih dan baru gitu, beda ma pesawat dalam negeri yang keliatannya kuno dan kusam.

Penerbangan memakan waktu 3 jam setengah. Tidur ga bisa, kursinya keras banget. Geser sini geser sana, bisa tidur juga walau tidur-tidur ayam :P

Karena ini budget flight, jadi kita ga dapet air minum, selimut ato bantal. Minum musti beli seharga 50 peso. Ini juga nih yang gokil, gue sama sekali ga bawa peso ato dolar, di dompet gue cuma ada 800ribu, hasil dari narik ATM gara-gara mo buat bayar fiscal. Sedangkan rupiah ga berlaku disini.

Jadilah aku menahan haus....hiks.....

Kelelahan dan ketegangan selama semalam terakhir, terbayarkan ketika melihat seraut cahaya pagi di cakrawala. Saat-saat menjelang pagi, terasa indah ketika dilihat di ketinggian.

Bagai yin dan yang yang membagi dunia menjadi dua sisi. Terang dan gelap.

Semburat warna merah bercampur biru dan putih, menghasilkan nuansa warna tersendiri yang sangat indah. Seperti perkataan Helen Keller, face the sunshine, so you can not see shadow in the darkness.

Ke arah terang itulah, kami melaju, meninggalkan kegelapan di belakang.

Jauh di bawah, tanah Philpinnes, mulai nampak. Kontur tanahnya yang berbukit terlihat jelas dari udara. Bahkan kota Manila pun terlihat sangat padat.

Tak terasa landasan pacu mulai terlihat di kejauhan. Kamipun bersiap untuk mendarat.

Sayup-sayup, di tengah lamunanku, aku mendengar pengumuman bahwa kami akan mendarat dalam hitungan menit.

Suara katup roda yang terbuka, menandakan pilot sudah dalam kondisi mencari posisi tepat untuk mendarat.

Semakin dekat, landasan pacu dan tanah terlihat semakin dekat.

Ketinggian terus menurun…

Daratan terlihat semakin dekat…..

cssss……

pesawat pun mnedarat dengan mulus……

…mabuhay….

……welcome to Ninoy Aquino International Airport….

…..welcome to Manila….

Entah kenapa, setiap kali mendarat, orang-orang selalu terburu-buru untuk keluar. Aku yang biasanya santai kalo nunggu giliran keluar pesawat, bahkan selalu paling akhir, kini aku pun terburu-buru mo keluar juga. Aku bergabung dengan orang-orang yang sudah berdiri di lorong.

Pukul 6.00 aku menginjakkan kakiku di tanah Manila. Imigrasi tentu menjadi tujuan pertamaku. Proses berjalan mulus, aku mendapatkan visa untuk 2 minggu.

Setengah jam kemudian, aku sudha di luar bandara. Celingak celinguk nyariin bajaj, kok ga ada....

Nanya ke satpam, dimana tempat penjemputan, doi malah kasih tau tempat naik bus. Setelah celingak celinguk 10 menit aku curiga, bahwa aku harus menuju ke sebuah lorong yang sedari tadi sedang aku lihat-lihat. Betul aja, ketika ngintip, aku lihat si bajaj lagi ga sabar menungguku.

Senyum kami pun langsung merekah ketika tatapan bertemu. Pelukan hangat dan penuh kerinduan, menghiasi pertemuan pertama kami setelah 3 bulan tak bertemu.

Ia segera menuntunku ke mobil kebanggannya. Betapa tidak, Vios seri terbaru ini adalah mobil sedan pertama hasil jerih payahnya.

Joey, sang Driver pun langsung menyapaku dengan ramah, “Gud morning, Ma’am.”

Mm…pertama kali nih dipanggil dengan sebutan “Ma’am”.

Joey, berbaik hati untuk mengantarkan kami berkeliling kota Manila, kendati hari Sabtu dan Minggu adalah hari liburnya. Bajaj ga nyetir karena ia belom terbiasa untuk menyetir di sebelah kiri.

Monday, October 1, 2007

STOP....

Letih…
Letih sekali…
letih karena harus terus berlari,
aku ingin diam sejenak……
diam dan merasakan kehidupan berjalan dengan semestinya…..
….kehidupan yang bukan sedang kujalani ini….

kujadikan pekerjaan sebagai pelarian dari rasa sepiku…..
terkadang aku menikmati kesibukan yang melelahkan ini…..
sampai satu titik, aku merasa ga mampu lagi….
aku letih…..
saat inilah aku mulai berpikir tentang kehidupan ini….

apa yang sedang kucari saat ini….
apa yang bisa membuatku bahagia….
di tengah kesibukanku, aku mencari-cari….
dan aku tidak menemukannya……

karena aku sudah melewatkannya…..
kucari kebahagiaan dalam pekerjaan…..
aku pernah mendapatkannya….
dulu…..
ketika aku baru memulai karirku……

semakin lama….
tak sadar kujadikan pekerjaan sebagai rutinitas…..
dan akupun tidak mendapatkan lagi rasa itu…..
kebahagiaan yang dulu pernah ada ketika aku menyentuhnya…..

pelarianku, membuatku semakin jauh dengan orang-orang terdekatku…..
membuatku, melewati hari-hari special dengan mereka…
demi pekerjaan…..
menjadikan kebahagiaan semakin jauh melewatiku…….

aah..ironis sekali kehidupanku….
aku ingin kembali ke kehidupanku yang dulu…..
mencintai pekerjaan, namun tidak melupakan orang terdekatku……

Jakarta, 1 OKtober 2007

Saturday, September 29, 2007

The Beginning

“ok, jadi nanti tanggal 29, kamu harus terfokus pada ekspresi penonton ya. Biar bagaimanapun, kamu harus dapat ekspresi mereka…..”

Baru saja aku menyelesaikan kalimat itu, temanku berteriak, “Gempa…gempa…..”

Setelah diperhatikan memang benar sih, aku pun merasakan gempa yang ternyata cukup lama. Kupikir itu hanyalah gempa biasa yang skalanya tidak terlalu besar, dan aku masih bersikap santai di ruang meeting. Tapi aku menyempatkan diri untuk kembali ke mejaku, dan ambil handphone. Yah, saat-saat seperti ini aku baru merasa, kalo teknologi yang satu ini sudah seperti pakaian, kita ga bisa jauh darinya. Rasanya aneh bila tidak membawa Handphone di saku.

Anyway….ternyata setelah dicari info lebih jauh, gempa ini berada di sekitar pantai Barat Sumatra, dan kota Bengkulu serta Padang terkena dampak lumayan parah.

Huh…ada-ada saja, di kala kepergianku ke Manila tinggal menghitung hari (7 hari lagi) ternyata ada aja kejadian yang aneh-aneh. Bikin rencana, gagal semua deh…..

Apalagi di posisiku yang sekarang ini, aku punya tanggung jawab yang cukup berat untuk menjaga kelangsungan program. Ditambah, host penggantiku, yang ditugaskan untuk meliput ke Bengkulu. Sudah pastilah, aku reschedule tiket ke Manila……huhuhu….

Terbayang di benakku, minggu depan akan menjadi minggu yang padat, karena aku harus menjadi host dan ada salah satu timku yang pergi ke Bengkulu…..

Aaahhh….apa daya….

Setiap hari, setiap kali aku mendapatkan update terbaru mengenai Bengkulu, kok rasanya makin lama makin parah yah keadaannya. Insan Tzu Chi yang pergi kesana aja, belum bisa masuk ke Muko-Muko, wilayah yang katanya paling parah dampaknya. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta hari Sabtu….

Disinilah kisah seru bermula…….(to be continued……)

Jakarta, 29 September 2007

Friday, September 28, 2007

Another story in my LIfe












" Life is impermanent, cherish every moment..."


Pilot : ….”perseneling mobil 2 ada masalah,….kami menepi sebentar…..”

Sweeper : “Sweeper menepi sebentar, menunggu kendaraan 2, yang lain silahkan duluan.”

---- Beberapa saat kemudian -----

Sweeper : “ Mobil 2 udah ok, sweeper rolling….”

Mulanya, percakapan melalui radio seperti ini, agak asing di telingaku. Maklum, ini pertama kalinya aku ikut Roadventure bersama dengan KTI (Komunitas Trooper Indonesia). Tapi lama kelamaan, aku jadi terbiasa, dan tetap bisa tidur nyenyak di sepanjang perjalanan walau radio kecil ini terus mengeluarkan suara yang tidak nyaman di telinga :p . (gini deh enaknya, kalo jadi penumpang, tinggal taruh pantat, tidur, menikmati pemandangan hehehe….. )

Eit..tapi kita ga tidur mulu loh, kadang-kadang khawatir juga kalo tiba-tiba kita berhenti dan ternyata ada masalah di salah satu mobil. Seperti yang terjadi di mobil kami, ketika sedang melalui jalan yang sempit serta medan jalan yang naik turun dan berliku, tiba-tiba ada tumpukan batu di tengah jalan. Mau ga mau, kita harus berhenti. Karena lumayan lama menunggu dan cadangan bensin juga dah mo abis, Budi (pilot kita), dianjurkan oleh anggota Roadventure yang lain untuk mematikan mesin dan memasukkan persneling ke posisi mundur…….

Keanehan mulai terjadi ketika mesin berusaha untuk dinyalakan……..

tet…tret…tret…..tret…………….

“wah gawat, napa lagi nih mobil, udah kita lagi di posisi menurun lagi, dan kiri kanan jurang yang dalam sudah menunggu. Mmmm…kalo mogok gimana caranya nih…”, pikirku.

tet…tret…tret…..tret…………….

Wajar saja, kalo aku khawatir, semenit sebelumnya mesin ga papa kok, lalu napa tiba-tiba bisa kehilangan arus listrik.

…..zzzzzz…….zzzzzzz…

....kunci kontak terus di putar berkali-kali….namun arus listrik tetap tidak ada.…..

Bukan hanya aku yang panik, Dylan, Grace dan Budi pun udah panik juga….

Anggota Roadventure yang lain sudah mulai mendatangi mobil kami……

Akhirnya, Mas Widodo, meminta Budi untuk buka kap mesin……

Phew…akhirnya ketauan juga biang keladinya… kabel yang menempel di Accu, terlepas. Sepertinya terlepas karena kita sering melewati medan yang keras.


Syukurlah, setelah diperbaiki sebentar, mesin sudah mau nyala kembali. Dan perjalanan dilanjutkan kembali……

Kejadian seperti itu, tidak hanya terjadi sekali, dalam satu hari perjalanan, tak terhitung berapa kali kami berhenti hanya karena adanya masalah pada salah satu kendaraan. Kerjasama yang baik dan saling menjaga antar anggota menjadi kunci utama dalam perjalanan seperti ini. Walau banyak dari kami yang tidak saling mengenal dengan dekat, namun setiap orang saling menjaga satu sama lain.

Aku sungguh menikmati setiap momen dari perjalanan ini. teman seperjalanan yang menyenangkan, medan jalan yang cukup menantang, dan yang paling buat aku seneng adalah “camping time”. Maklum, ini pertama kalinya aku camping (duh..telat banget ya…). Kita bawa 1 tenda besar yang muat untuk 5 orang.

Mmm…ternyata tinggal di tenda nyaman juga, ga seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Malam pertama kita gelar tenda di Ranca Buaya. Disini tempatnya lumayan “terlindungi”, karena kita buka tenda di bawah atap pendopo hehehe……

Membangun tenda adalah bagian yang paling aku suka. Berempat, kita kerja sama untuk membuat sebuah sarang yang nyaman, walau hanya untuk satu malam.

….tarik sana….tarik sini….iket tali….

…..cari batu buat penganjal, bikin parameter…

…..siapkan dapur kecil, siapkan sleeping bag dan alas buat bobo……

Finally, ladies and gentleman, welcome to our 5 star hotel…..

Puas rasanya….melihat rumah mungil kami berdiri dengan kokoh. Apalagi pemandangan di depan kami adalah Laut Selatan. Dengan buih ombaknya yang menggulung, seakan mengucapkan selamat datang di dunia kecil kami.

Aaghh…indahnya dunia kecil kami ini. Rasanya tidak ada orang luar yang dapat merusak kebahagiaanku.

Kehangatan dan kekompakan kami berempat, kembali tercipta ketika kami menyiapkan makanan di dapur kecil dan sederhana kami. Sosis, sarden, dan mie instant menjadi menu kami. Sederhana memang, cara memasaknya pun seadanya, namun, pemandangan dan suasana yang mendukung membuat kenikmatan menu sederhana ini menjadi berlipat-lipat.

Ketika aku melihat ke sekeliling, anggota Roadventure yang lain juga merasakan kenikmatan yang sama dengan kami. Sambil menyicipi makanan kecil, kami bersenda gurau dan berbicara mengenai banyak hal.

Malam itu, di bawah taburan jutaan bintang (sayangnya tertutup dengan atap tenda), aku masuk ke dalam kantung tidurku yang hangat. Dengan beralaskan ubin nan keras, diiringi dengan suara deburan ombak yang merdu, akupun terbuai dalam dunia mimpi, sambil berharap suasana seperti ini dapat berlangsung selamanya.

Zzz……

Deburan ombak dan indahnya mentari pagi, membangunkanku dari dunia mimpi. Hari baru telah datang, petualangan baru sudah menanti. Dengan tak sabar, aku mengira-ngira, pengalaman apa yang akan menghampiriku hari ini.

Usai makan pagi, kami merobohkan rumah kecil kami. Bersama-sama kami melipatnya dan menyimpannya dalam tas penyimpanan, tak sabar untuk membukanya kembali.

Sebagai tanda terima kasih kami pada warga sekitar, kami menyerahkan beberapa dus biscuit pada mereka. Karena kondisi geografis yang cukup gersang (pohon jarang ada), membuat perekonomian warga sekitar ini, cukup sulit. Mereka hanya mengandalkan laut sebagai mata pencaharian. Didukung dengan keadaan infrasturktur yang minim, membuat masyarakat disini semakin terisolasi dengan dunia luar, tak heran mereka sangat miskin. Sayang sekali, kami tidak sempat berbincang-bincang dengan warga disini.....


Mentari belum sampai di puncaknya, namun kami harus melanjutkan perjalanan kami menuju Situ Patengang, sebuah danau yang cukup luas di daerah Ciwidey, Jawa Barat. Menurut rencana, kami harus duduk manis di mobil selama 6 jam.

Kami sempat berkendara di tepi pantai. Mmm…kalau bukan dengan kendaraan 4wd, pasti ga akan bisa melalui jalan seperti ini. Di tengah teriknya mentari dan kencangnya angin laut, aku sangat menikmati momen ini.

Berbagai medan sulit pun masih harus kami lalui. Yang paling mendebarkan ketika kami harus melewati perkebunan teh di tengah kabut. Dengan jarak pandang hanya 2-5 meter, 10 mobil saling jalan beriringan dengan perlahan. Bukan hanya pilot yang tegang, aku pun ikutan tegang memperhatikan jalanan.

Dengan radio kecil yang terus berbunyi, sambil menginformasikan hal-hal yang terjadi di iringan paling depan, mobil dijalankan dengan hati-hati.

Jarak pandang yang terbatas, tidak menghalangi keindahan kebun teh ini. Terdapat beberapa pohon yang meranggas, mengingatkanku pada The white tree of Minas Tirith, pohon lambang kerajaan Gondor dalam Trilogy LOTR.

Keindahan alam ini, membuatku terpukau akan ciptaan Tuhan yang selalu indah dengan cara dan gayanya sendiri.

Mmm..lama kelamaan serem juga melewati kebuh teh, saat hari sudah gelap.

Akhirnya tiba pula di Situ Patengan. Yang mengecewakan, tempat camping yang sudah kami pesan ternyata diberikan pada orang lain, jadilah kami harus cari tempat lain untuk menggelar tenda.

Terpilih juga, lokasi di dekat kolam pemandian air panas Ciwidey. Di samping tepian hutan, kami pun menggunakan mobil sebagai parameter dari orang asing.

Segera saja, setelah memasang lampu dan genset, kami mencari lahan untuk membuka tenda. Di atas tumpukan serpihan kayu, kami membangun rumah kecil kami.

Kembali kami sibuk, geser sana…geser sini…..tarik tali….bangun tenda…

…..siapkan terpal pelindung untuk melindungi tenda dari hujan……..

….siapin sleeping bag dan matras…..

Hore..jadi juga rumah kecil kami yang kedua di tempat yang berbeda…..

Udara disini lebih dingin dibandingkan di Ranca Buaya, sekitar 12 derajat. tapi kok dinginnya berasa banget ya?
Ga sadar, tubuhku pun mengigil kedinginan. Mungkin ini tandanya, kalo udah waktunya untuk makan….:)

Kami pun segera, menyiapkan dapur kecil kami, mengeluarkan pengorengan dan kompor. Menu hari ini adalah jagung, kacang merah dan sosis, yang semuanya dimasak jadi satu.

Nyum….lezat, menikmati makanan hangat di tengah udara yang cukup dingin..nyum…nyum…

Apalagi, makannya secara bersama-sama di satu wajan. Terjadilah, perebutan makanan antar 4 orang hahaha….

Di bawah bintang yang gemerlapan, di bawah pohon entah pohon apa, kami asik dengan dunia dan obrolan kami sendiri, padahal di luar sana, di tempat pemandian umum air panas, suara-suara bising terus belanjut. Namun, kehangatan di antara kami, membuat kami tidak menghiraukan suara-suara bising yang nantinya akan sangat mengganggu tidur kami.

Hanya ada satu kata untuk menggambarkan malam itu, romantic….

Buatku momen inilah yang pantas untuk disebut romantis (kan untuk menciptakan suasana romantis tidak harus berduaan dengan yayank aja :p )

Malam pun terus berlanjut, sudah saatnya untuk masuk ke sleeping bag dan menggapai sang mimpi. Beberapa lama aku sempat berusaha untuk tidur, namun kantuk tak kunjung datang. Gantinya aku malah mengigil kedinginan.

Yah…malam itu, aku tidak bisa tidur. Selain tubuhku yang mengigil, suara bising di kolam pemandian itu terus berlangsung sampai subuh. Belum lagi suara anak-anak muda sekitar yang sedang saweran dan naik motor kesana kemari……Ditambah suara dengkur orang-orang di sebelahku….mmm…mereka tidur nyenyak banget…..hanya aku yang sendirian tidak bisa tidur dan entah mau ngapain….

Jadilah, malam itu aku hanya sempat tidur selama 2 jam. Hebatnya, di pagi hari, aku bangun dengan bugar, seperti bila aku tidur selama 8 jam.

Suara burung berkicau pun, menyambut pagi yang cerah ini. Kami pun bangun dan menyiapkan makanan pagi. Menu hari ini, roti bakar dan telur, ditambah sosis khusus untuk pilot tercinta…..:p

Aahh…sedih juga, waktu yang menyenangkan ini harus berakhir. Kami sudah harus mengemasi perbekalan dan bersiap untuk menuju ke Kawah Putih.

Akhirnya keinginanku, jadi nyata juga. Sudah beberapa lama aku mendengar tentang keindahan kawah ini, namun setelah beberapa kali mencoba, aku tidak pernah kesampaian untuk berkunjung kesini.

Hari ini, keinginanku melihat Kawah Putih, menjadi nyata J

Tak sabar aku ingin melihat keindahan kawah ini. Ketika melewati pintu masuk menuju taman nasional ini, mataku disuguhi dengan hamparan pasir putih…..bau belerang menyengat indra penciumanku. Aku pun setengah berlari langsung menuju ke tepi kawah.

Indahnya pemandangan ini……

Kamera di tanganku langsung ku nyalakan dan kuabadikan pemandangan yang tak ingin kulupakan ini.

Belum puas, aku mengitari kawah ini, namun apa daya, teman-teman yang lain sudah mengajak untuk pergi…

Selamat tinggal Kawah Putih, mungkin lain kali aku akan berkunjung kembali kesini……

Perjalanan pun dilanjutkan ke Jakarta, setelah sempat terkena macet selama 3 jam, kami dapatkan pula lalu lintas yang lancar….dan perjalanan berjalan lancar sampai di Jakarta.

Berakhirlah, pengalamanku selama 3 hari di Jawa Barat. Pengalaman yang menyenangkan dan tidak akan pernah kulupakan, karena ini adalah pertama kalinya aku camping dan berkenalan teman-teman yang asik pula, yang ternyata menjadi teman seperjalanan ke Bengkulu. Penasaran untuk mengikuti kisah selanjutnya……ditunggu saja, kisah perjalananku ke Bengkulu untuk membantu korban gempa. Pengalaman kali ini lebih seru daripada pengalaman sebelumnya.

Jakarta, 28 September 2007

Friday, April 27, 2007

Andai aku bisa seperti laut.


Beberapa hari ini, sering terpikir tentang arti kehidupan. ..Beberapa orang bilang, kita harus mengisi hidup ini dengan penuh makna.

Lalu mengisi dengan makna apakah itu? katanya dengan membahagiakan orang lain, dengan berbuat baik pada orang lain. Tapi bagaimana, bila tindakan itu tidak membuat aku bahagia?
Bagaimana bila apa yang aku inginkan tidak sesuai dengan kondisi dan keinginan orang terdekatku?
Apakah aku harus menuruti mereka, atau bolehkah aku berontak dan melakukan apa yang kuinginkan walau itu harus menyakiti hati mereka?

Hidup ini terlalu kompleks...andai aku bisa seperti laut, yang selalu dapat menepi kemanapun angin membawanya.

Jakarta, April 2007

Thursday, April 19, 2007

A chance

Jakarta, 19 April 07

".......kesempatan selalu datang pada saat yang tepat...."

Seringkali kita mendengar ungkapan itu. Seringkali pula aku menyangkalnya. Tapi beberapa waktu ini, aku mulai mempercayai kata-kata itu.
Dulu.....aku sering terpikir, "kenapa ya kok posisi gue gini-gini aja, ga ada tantangan."
Now, I know the answer. And it's very simple, " I'm not ready enough to take the risk."

Saat ini, ketika aku berada di posisi ini dan aku lihat ke belakang, aku sadar bahwa dulu aku memang ga siap. Tapi seiring dengan berlalunya waktu, karakter dan pengalaman menjadi lebih kaya.

Saat itulah kesempatan itu datang. Walaupun saat ini masih lom siap juga, setidaknya saat ini aku bisa lebih tegar dan tau apa yang harus dilakukan.

That's life, mysterious with any way....

Monday, April 2, 2007

Di Ujung Perjalanan


"...akan tiba malam, dimana manusia tidak bisa melakukan apa-apa lagi....."

Ketika perjalanan hampir berakhir.....akankah kita menyesali kehidupan ini karena kita tidak melakukan hal-hal yang berguna......
Atau....
Merasa bersyukur atas hidup yang diberikan Tuhan pada kita....

Selama ini aku seringkali berpikir, ketika perjalananku hampir berakhir, akan seperti apakah itu?
Apakah aku akan bersyukur atau aku akan menyesali banyak hal yang belum dan tidak pernah aku lakukan.......

Apapun itu, saat ini, di tengah berbagai masalah yang aku hadapi, aku hanya berusaha untuk tetap teguh dan mensyukuri kehidupan ini.
Keteguhan bukanlah suatu hal yang mudah. Ketika menjalaninya berbagai godaan dan cobaan akan terus menerpa.
Hanya ada satu orang yang kuandalkan, Tuhanku.
Ketika aku hampir jatuh, aku tau kalo Dia selalu berteriak, menegurku dan menguatkanku. Walau seringkali aku tidak menghiraukanNya, tapi aku tau Dia ada.

Aku hanyalah seorang manusia, yang mencoba untuk menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya.
Aku mencoba bertahan di tengah deru badai kehidupan.
Aku mencoba agar waktuku tiba, aku tidak akan menyesali kehidupan ini.........

JenN